DON’T WORRY (2)

Akhirnya hujanku turun. Nggak tau kenapa suka banget sama hujan (tapi kadang juga takut sama hujan – hujan yang pake embel-embel petir dan angin ribut hehe juga takut basah karena hujan, terkadang), mungkin karena katanya hujan itu sebagian dari waktu mustajab doa akan dikabulkan.  Kayaknya doa ku yg paling cepet terkabul adalah minta hujan. Sejuk banget nggak sih hati, kalau hujan turun? Minta hujan itu kayak dikasih hadiah 1 permintaan, terus mintanya 1001 permintaan. Soalnya aku selalu ngerasa kalo satiap bulir hujan turun ada malaikat yang siap mengabulkan setiap doa. Semoga, aamiin. Dan siang ini… rasanya sudah terlalu banyak meminta sama Gusti Allah, sekarang waktunya (kok sekarang waktunya Ran?! ralat: minta sama bersyukur harus seimbang) berterimakasih ini dan itu karena doa ku yang ini dan itu yang Allah sudah kabulkan maupun belum (semoga Allah memberi lebih banyak lagi kesabaran untukku menunggu doa yang berlum terkabul). Alhamdulillah… alhamdulillah… Alhamdulillah.

Aku (lagi) sedang di fase ingin “ngejar surga” aja rasanya. Dulu pas kuliah entah semester berapa, stresnya sama kuliah karena nggak pinter-pinter banget dan udah bener-bener capek batin, ngeluh “Ya allah, cape”. Ayolah kalian pernah keucap gitu nggak sih instead “pengen cuti/berhenti/nyerah kuliah”? Ran, Ran… Itu aku beberapa tahun yang lalu, sedangkal itu, walaupun sampe dingeluh aja sih nggak dilakuin juga nyerah sama kuliahnya hehe. Nggak ada kata nyerah dalam kamusku, selama ini. Sekarang, untung udah ke laut daleman dikit mikirnya, alias nggak dangkal.  Ngejar dunia lelah, tapi ngejar surga juga bukan perkara gampang. Oke. Maksudku membangun istana lalu menggali dan menabung pahala itu, nggak segampang itu. Bahkan untukku memperbaiki perilaku, tidak semudah teori… sayangnya. Malah setelah tahun pertama lulus kuliah, pengen kuliah lagi. Hidup selucu itu.

Aku pernah mikir gini, semakin tua semakin menjadi manusia. Semua hal terbungkus kehati-hatian karena rasa takut. Iya nggak sih? Nyebrang jalan, takut. Nonton film hantu, takut. Nyetir, takut. Makan takut. Mau gini, takut. Mau gitu, takut. Kayak waktu kecil pertama kali naik escalator, takut. Atau ada trauma makan ikan setelah ketelen duri ikan. Padahal, semua rasa takut untuk mengambil langkah itu nantinya yang akan jadi sebuah luka kalau keinginan/ cita-cita cuma berhenti dirasa takut. C’mon.

“Apply for that job, date that person, move to a new city, take risk.” -nn

Bicara karir lagi, setelah gagal berkali kali kali kali disesuatu kesempatan, mungkin ini kayak semacam jalan peringatan GINI LOH RAN, bebel banget dikasih tau tapi nggak sadar-sadar. Nggak sadar kalau bukan itu jalannya Ran, bukan seperti itu caranya. Lagi di tengah jalan, di dalam transjakarta, berdiri sambil baca sebuah thread, termenung… akhirnya aku sadar. Why and how. Apa sih yang dicari dari karir, udah sesimple itu aja intinya. Dan ya… Aku akhirnya tau tujuanku apa. Sebenernya memang udah lama kepikiran dan punya cita-cita ini dan itu. Tapi…. JANGKARNYA NGGAK AKU KELUARIN, jadi deh keombang ambing ombang ambing. Terus kemaren sempet kepukul sama kata-kata ini “Jadi, kamu selama ini cuma gitu aja?!”. Rasanya sakit sekali saudara-saudara. Hahaha. Tapi karena itu jadi sadar lagi nih (ya ampun Ran, baru sadar mulu), ya aku terhipnotis zona nyaman. Ckckck. Sungguh, bisa keluar dari zona nyaman itu yang bikin sukses (kata orang-orang dan aku setuju). Fokus. Ayo. Kalo yang lain bisa, aku, kita pasti bisa. There’s a will, there’s a way kan? Insyallah.

Hidup(ku) itu soal cita-cita. Dulu pengen jadi desainer baju instead modelnya, dulu pengen jadi penyiar radio, dulu pengen jadi cheerleader, dulu pengen jadi orang yang jago main piano instead pianis terkenal. Karena aku cuma pengen bisa jago main piano, terus kalo tiba-tiba ketemu piano di tengah mall atau hotel atau di manapun itu, itulah panggungku. Sampai sekarang masih pengen banget jadi orang yang jago main piano, sempet mencoba mewujudkannya: les piano, tapi sayang nggak efisien, nggak efektif untukku yang cuma sekali seminggu 30 menit waktu jatah les. Walau nggak kesampean sampai recital, at least udah pernah “manggung”. Nggak pernah kebayang sih bisa punya kesempatan manggung, aku senang! Dan ya… ada juga cita-cita lainnya, punya ini dan itu. Tapi semakin dewasa, semakin waktu berkurang, banyak juga cita-cita yang ku eliminasi. Kenapa? Karena sadar diri aja mewujudkan semuanya bukan hal mudah. Sekarang aku lagi (terus berusaha) mencintai bidangku, aku sedang mengejar cita-citaku yang lain. Semoga terwujud. Semoga. Insyallah. Aamiin. Tapi rencana Allah selalu lebih baik dari rencanaku. Hal kecil ini yang jadi pengingatku: sore itu niatnya mau malem mingguan, lalu batal karena satu dan lain hal. Coba jadi, kasian mas partner sampe rumahku basah kuyup karena hujan deras.

Bagaimanapun hidup. Aku tetap ingin jadi Rani.  If I was you, I’d wanna be me too. *backsound lagu Me Too – Megan Thrainor*

Kalau kata Pak Ustad, hidup ini adalah lautan nikmat Allah, kita tinggal pilih: menjadi manusia yang “menyelam” atau “tenggelam”.

❤ Rani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *