DON’T WORRY

Disebuah siang hari yang cukup longgar tertakjub liat link, isinya tentang bagaimana laba-laba membuat jaringnya dan itu amazing banget. Gusti Allah sangat detail menciptakan segala karyaNya, indah. Sedetail itu. Pengen nangis saking takjubnya dan malah jadi pengen beli e-ensiklopedi rasanya. Science selalu mencuri perhatianku. Hehe

Hey halo, btw! Sungguh aku sedang menggodok sebuah video jalan-jalan, tapi belum juga rampung. Ada 2 cerita jalan-jalan jadi pr ku! (Kayaknya udah janji ya di post sebelumnya bakal upload cerita jalan-jalan, hehe apologize me). Ini malam minggu dan aku lagi mood banget buat sharing pikiran di sini. Ini sebenernya sekumpulan pikiran-pikiran yang muncul di siang hari yang lagi-lagi aku catat di notes hp kesayanganku. Aku rangkum ya…

Kita semua pasti punya doa yang terus kita ulang, yang terus kita nantikan terwujudnya. Sebuah doa yang besar. Tapi pernah ngga sih kalian menghitung, disela-sela waktu terwujudnya doa besar itu, banyak doa lain yang terwujud duluan dan kalau dihitung ternyata wow sama bahagianya ketika doa-doa kecil ini malah terwujud lebih dulu. Coba ayo hitung nikmat Allah, disetiap ada kata dipikiran “kapan ya doa ini terkabul”, coba hitung dulu berapa banyak doa lain yang Allah kabulkan lebih dulu. #notetomyself

Kebahagiaanku sesederhana liat orang terdekat: bahagia. Apapun itu, kalo liat mereka seneng adem aja hati, kayak rasanya ya Allah that’s really enough for me. Alhamdulillah. Tapi juga kadang aku merasa kok temen-temen lainnya udah sampe dicheckpoint mana aku masih di mana, apa cita-citaku kurang tinggi, kurang besar? Tapi kan… Allah udah jamin, jodoh rezeki hidup dan mati Allah yang atur, kita nggak perlu khawatir. “Allah nggak minta kita sukses, Allah cuma minta kita usaha.” —Insta story seorang senior. Kita nggak pernah tau usaha keberapa yang akan berhasil an doa yang mana yang akan terkabul lebih dulu.

Soal jodoh, katanya, jodoh kita adalah cerminan diri kita. Dan ini kadang aku suka lupa. Pas lagi inget langsung refleksi diri, evaluasi diri. Pengennya kurang-kurangnya langsung diremedial. Lirik coldplay ini cukup mewakilkanku: “…nobody said it was easy”. Kalau soal karir, aku, kita semua punya tujuan. Adanya tujuan, itu sudah cukup. Kadang aku juga nggak sabar dapet giliranku. But, untuk sampe di checkpoint itu nggak bisa instan, bahkan mie instan pun butuh dimasak buat dimakan (ya walaupun digadoin gitu aja indomie tetep enak hehehe #teamindomie).

Don’t give up, terus memperbaiki diri

Sampai suatu siang aku sadar “inget aja niat awalnya gimana”, Ini perlu banget sih jadi JANGKAR supaya nggak ke mana-mana. Kalo bicara kesuksesan, setelah ku perhatikan orang-orang sukses itu fokus disatu titik: satu tujuan. Bisa semuanya (multitalent), boleh aja nggak apapa. Tapi inget tujuan awal apa. Dan kalo lagi terombang-ambing nggak tau harus gimana, sekali lagi “inget aja niat awalnya gimana”. Juga, orang-orang sukses itu mereka berjuang sampai tirik darah penghabisan, inget ya! Dan sampai saat ini, aku mikirnya tangga kehidupan itu sub-nya begini: menyelesaikan kewajiban lalu meraih hak: membahagikan orang terdekat dan diri sendiri.

Mulai sekarang juga lebih pengen nggak nyalahin orang lain, maupun diri sendiri. Bukan nyalahin sih, hmm apa ya kata yang cocok? Harus bisa bikin perspektif “kok gitu” jadi ke: “bisa jadi karena”, dan lainnya. Agak susah ya ternyata mengolahnya pikiran ke bentuk kalimat, intinya sih nggak pengen punya pikiran pesimis pun negatif sama diri sendiri maupun orang lain. Kalau membuat pandangan mencoba memposisikan diri gimana kalau kita diposisi mereka. But still, learn to say no and speak up. Kita semua bisa kok. Memang ada kalimat ini: “Tak perlu menjelaskan tentang dirimu pada siapapun, karena yang mecintaimu tidak membutuhkan itu dan yang membencimu tidak akan mempercayai itu” – Ali bin Abi Talib RA. Tapi menurut aku, disuatu posisi, it’s okay kalo memang kondisinya orang lain perlu tau nih apa yang kita pikir. Ini salah satu bentuk usaha juga. Kita nggak pernah tau apa yang terjadi setelah kita mencoba. Urusan hasil itu nomer dua, kan?

At least, we tried.

Malam terbaik adalah malam yang dihabiskan dengan bertukar pikiran. Melegakan. Menyenangkan. Even cuma “ngobrol” sama diri sendiri. Ternyata menjadi dewasa itu nggak melulu melelahkan dan menyebalkan. So much thing we can do! Tinggal pilah-pilih saja mana dulu yang mau dikerjakan. Mana dulu yang jadi prioritas. Aku baru benar-benar sadar atau memang sering skip soal ini, cita-cita setiap orang berbeda. Manusia punya tolak ukur masing-masing. Nggak bisa deh menyama ratakan cita-cita, Ran.

Ya sekian rangkuman pikiran-pikiranku beberapa bulan (?) ini. Maaf kalau susunan paragrafnya masih random, aku sudah berusaha untuk mengkaitkan pikiranku yang satu dan lainnya. Sebenernya masih banyak lagi sih hehehe tapi hey, rangkuman ini sudah cukup panjang, ternyata manusia pasti selalu ada sisi overthingking. Setuju, ya!? Hmm… Semoga kita terus menjalani hidup dengan luwes dan bahagia sejalan dengan tuntutan kehidupan. XOXO

❤ Rani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *