“HIDUP SUNGGUH SANGAT SEDERHANA” -P

May 2018, Dia.Lo.Gue – Jakarta

Bulan Mei banyak banget liburnya gengs, so happy! Honestly kalo ditawarin liburan pengennya sih liburan ke pantai, camping di gunung: stargazing beb!, liburan spaming foto-foto alam Indonesia lah pokoknya di Instagram. Hahaha jumawa. Nggak sih, nggak niat jumawa kok cuma ingin liat dan sharing betapa cantiknya alam Indonesia. We only live once kan? Rugi nggak sih, diwaktu yang ada, nggak lihat yang cantik-cantik secara gratis di Indonesia ini? Ah ya jadi inget pernah baca, turis interlocal a.k.a bule mereka iri banget sama kita-sebagai warga Indonesia karena keliling Indonesia gampang banget nggak perlu kelengkapan ini dan itu. Eh jadi kemana-mana, intinya ya kalo ditawarin liburan kemana… kalo nih ya guys ditawarin liburan kemana pengennya menikmati alam Indonesia yang cantik dan gratis ini walaupun transportasinya yang nggak gratis hihihi. Tapi… karena tuntutan pekerjaan yang cuma libur hari Minggu, explore Jakarta aja is enough banget untuk Rani. Jadi inget kata bunda (ah Ran, dikit-dikit flashback) “kalo minta/ berdoa itu yang cukup dek, mau ini cukup mau itu cukup”, hehe ya juga sih porsinya pas. Enaknya tinggal di Jakarta banyak banget tempat yang bisa jadi tujuan wisata. Seperti judul tulisan ini, hidup sungguh sangat sederhana. Ya, tinggal bagaimana perspektif kita saja yang menafsirkan hidup ini, padahal (sekali lagi) hidup sungguh sangat sederhana.

So, weekend kemarin Rani dan… oke kenalin dulu (finally) partner baru nih, yang sebenernya ikut di beberapa postingan terakhir. Panggil saja namanya Mas Husna ♥ Jadi weekend kemarin, kita ke #NAMAKUPRAM Catatan & Arsip Exhibition. Rani belum baca satupun sih bukunya Pram, tapi liat review tempat pamerannya keren banget kayaknya, jadilah kita ke sana. Lumayan untuk sedikit perkenalan sebelum baca bukunya Pram. Baca-baca beberapa kutipan buku Pram, selain itu ada juga tulisan surat-surat Pram. Lagi, lagi dan lagi Rani nggak sepenuhnya membaca isi keseluruhan tulisan yang ada di pameran. Hanya beberapa. Next time harus baca ya, Ran! Atmospherenya is really good by the way.

Pulangnya, Rani diracunin salah satu buku karya Pramoedya Ananta Toer, melipirlah kita ke salah satu toko buku terbesar di Matraman. Semoga buku “Bukan Pasar Malam” ini bisa didahulukan menjadi prioritas utama yang dibaca antara novel-novel lain yang masih duduk manis di rak buku, belum terjamah.

고마워 ♥

Kemana lagi kita?

❤ Rani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *